Anak Usia 7 dan 9 Tahun ini Jadi Pelaku Bom Bunuh Diri Lantaran Didoktrin Orang Tua

Musim dingin Syria pada bulan Desember menjadi saksi pilunya nasib dua orang anak perempuan yang masing – masing berusia 7 tahun dan 9 tahun. Kedua anak perempuan tersebut bernama Islam berusia 7 tahun dan Fatima berusia 9 tahun.
Dalam tubuh kedua anak tersebut telah dipasangkan bom bunuh diri yang bisa diledakkan dengan cara di remote. Belakangan diketahui bahwa aksi tersebut dilakukan sang anak lantaran telah didoktrin orang tuanya untuk melakukan jihad dan akan mendapatkan balasan berupa surga jika melakukannya untuk orang tua dan agama. Lantas, bagaimana kronologinya?
Kronologi Bom Bunuh Diri di Damaskus, Syria
Pada suatu hari yang dingin, seorang anak dengan sweater tebal berjalan kaki ke pos polisi Syria. Ia meminta izin kepada polisi untuk menggunakan toilet di kantor tersebut. Tak lama kemudian, bom meledak dari tubuhnya.
Tubuh anak perempuan tersebut hancur dan 3 polisi yang berada dekat dengan anak terluka parah akibat ledakan yang terjadi. Aksi ini terekam oleh video CCTV di area tersebut. Dalam video tersebut memperlihatkan detik – detik terakhir kakak beradik, Islam dan Fatima.
Terlihat juga seorang pria dengan bendera hitam Jabhat Fateh Al-Sham ia pegang. Diketahui bahwa pria yang membawa bendera dengan lambang Jabhat Fateh Al-Sham tersebut merupakan ayah dari anak perempuan yang menjadi korban doktrin orang tua untuk melakukan pengeboman dengan dalih ‘jihad’.
Organisasi Jabhat Fateh Al-Sham sendiri merupakan sebuah organisasi yang dulunya bernama Jabhat Al-Nusra yang kemudian berganti nama. Organisasi ini merupakan sebuah organisasi militan pemberontak pemerintah Syria. Walaupun sama – sama organisasi pemberontakan, akan tetapi Jabhat Fateh Al-Sham ini merupakan sebuah organisasi yang berbeda dengan ISIS atau pun Al-Qaeda akan tetapi motif jihad yang dilakukan organisasi – organisasi tersebut relatif sama.
Seorang wanita dengan burka hitam memeluk kedua puterinya. Ibu tersebut nampaknya mengucapkan kalimat – kalimat motivasi untuk menguatkan tekad sang anak agar berjihad dengan meledakkan bom tersebut. Janji – janji tentang jihad dan surga ia ucapkan untuk mendoktrin anak – anak mereka agar mau melakukan apa yang ia perintahkan. Setelahnya, sang anak berjalan menuju pos polisi dan kemudian bom pun meledak menghancurkan tubuh sang anak.
Ketika diwawancarai oleh kameramen tentang doktrin yang ia sebutkan kepada sang anak, ibu dari kedua anak pelaku bom bunuh diri tersebut berkata bahwa usia bukan masalah untuk berjihad. Sang ibu berujar bahwa usia berapapun adalah waktu yang tepat untuk mulai berjihad, termasuk anak – anak.
Aksi yang dilakukan oleh anak perempuan yang didoktrin orang tua tersebut untuk melakukan jihad tentu dikecam. Banyak masyarakat yang mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh orang tua sang anak perempuan bukan merupakan tindakan terpuji lantaran menggunakan anak yang usianya masih kecil untuk melakukan aksi pemberontakan dengan alasan jihad dan mendapat balasan surga.
Orang – orang juga berpendapat bahwa anak seharusnya dididik untuk memiliki masa depan yang baik bukan didoktrin untuk melakukan aksi – aksi terorisme oleh orang tua. Apapun motif melakukan pengeboman tentu bukan hal yang bisa dibenarkan terlebih Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berbuat onar, meresahkan masyarakat dan melakukan tindakan – tindakan tidak baik semacam terorisme.
Islam adalah agama yang damai dan mendamaikan, bukan agama yang membawa umatnya melakukan tindakan kerusakan yang tercela.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *